Culture
Labels
- Air Terjun
- Bali
- Beasiswa
- Culture
- Download
- Event
- Feature
- Flora Fauna
- Gaya Hidup
- Indonesia Barat
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Kabar Kampus
- Kalimantan
- Kaltim
- Kep. Bangka Belitung
- Kuliner
- Lampung
- Nusa Tenggara
- Pantai
- Profil Niaga
- Pulau Kecil
- Riau
- rumah adat
- seni budaya
- Sumatera Barat
- Sumatera Selatan
- Sumatera Utara
- Tarakan
- Tempat Wisata
- Tips
- Transportasi Tradisional
- Wisata
- Wisata Gunung
- wisata pulau
- Yogyakarta
Tari Kuda Lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek militer dari pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, dengan jentikan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari Kuda Lumping, acara juga menampilkan atraksi berbau magis kekuatan gaib, seperti kaca tarik mengunyah, memotong lengan dengan parang, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural di zaman kuno dikembangkan di Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang digunakan untuk melawan penjajah.
Dalam tahap ini, tidak perlu koreografi khusus, serta peralatan perlengkapan sebagai Karawitan gamelan . Gamelan untuk mengiringi tari Kuda Lumping cukup sederhana, hanya terdiri dari Kendang, Kenong, Gong, dan terompet, seruling dengan suara melengking. Puisi dinyanyikan dalam tarian yang menyertainya, biasanya mengandung daya tarik bahwa orang-orang selalu melakukan perbuatan baik dan selalu ingat Sang Pencipta. Beberapa penari muda bambu naik dan menari untuk musik. Pada bagian ini, para penari Buto Lawas mungkin telah dimiliki atau dikuasai oleh roh. Para penonton juga tidak luput dari fenomena kepemilikan.
Banyak masyarakat setempat yang menyaksikan pertunjukan ke trans dan menari dengan penari. Sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya. Untuk memulihkan penari dan kesadaran penonton dimiliki, dalam setiap pagelaran selalu hadir leluhurnya, orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui pakaian yang dia kenakan semua hitam. Kakek akan memberikan penawar hingga penari dan kesadaran penonton pulih.
Seringkali dalam pertunjukan tari Kuda Lumping, acara juga menampilkan atraksi berbau magis kekuatan gaib, seperti kaca tarik mengunyah, memotong lengan dengan parang, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca, dan lain-lain. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural di zaman kuno dikembangkan di Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang digunakan untuk melawan penjajah.
Dalam tahap ini, tidak perlu koreografi khusus, serta peralatan perlengkapan sebagai Karawitan gamelan . Gamelan untuk mengiringi tari Kuda Lumping cukup sederhana, hanya terdiri dari Kendang, Kenong, Gong, dan terompet, seruling dengan suara melengking. Puisi dinyanyikan dalam tarian yang menyertainya, biasanya mengandung daya tarik bahwa orang-orang selalu melakukan perbuatan baik dan selalu ingat Sang Pencipta. Beberapa penari muda bambu naik dan menari untuk musik. Pada bagian ini, para penari Buto Lawas mungkin telah dimiliki atau dikuasai oleh roh. Para penonton juga tidak luput dari fenomena kepemilikan.
Banyak masyarakat setempat yang menyaksikan pertunjukan ke trans dan menari dengan penari. Sadar, mereka terus menari dengan gerakan enerjik dan terlihat kompak dengan para penari lainnya. Untuk memulihkan penari dan kesadaran penonton dimiliki, dalam setiap pagelaran selalu hadir leluhurnya, orang yang memiliki kemampuan supranatural yang kehadirannya dapat dikenali melalui pakaian yang dia kenakan semua hitam. Kakek akan memberikan penawar hingga penari dan kesadaran penonton pulih.
Wayang kulit yang tradisional Jawa seni yang masih bertahan sampai hari ini. Tidak diragukan lagi, ketika UNESCO pada 7 November 2003 menobatkan wayang sebagai karya yang menakjubkan budaya dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga . boneka bayangan yang sangat baik dikenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur .
Nenek moyang Indonesia , beberapa puluh tahun SM telah dikenal wayang , bentuk panggung sebagai sarana religius ritus ritual -menggunakan shadow - shadow ( boneka ) dalam menyampaikan program-program mereka . Menjadi Hindu bangsa menemukan wayang sebagai forum untuk membawa kisah Mahabharata atau Ramayana dalam agama.
Lalu ada yang sangat harmonis perpaduan antara dua budaya yang berasal dari Hindu dan seorang asli Indonesia , sehingga sampai saat ini wayang dengan cerita dari Hindu ( Mahabharata dan Ramayana ) mampu beradaptasi dengan perkembangan dari sejarah Indonesia . Secara bertahap seni pedalangan di Indonesia berkembang sesuai dengan selera dan kebutuhan penggemar , menciptakan berbagai bentuk dan berbagai cerita dari Menak wayang , wayang Suluh ke Rev bersama tradisional lainnya kesenian yang terkait ke dalam seni pedalangan .
Puppetry seni ( termasuk seni pedalangan ) adalah salah satu tradisional bentuk klasik seni dan budaya Indonesia yang adhiluhung (bernilai tinggi ), mengandung nilai kehidupan dan yang hidup luhur , yang pada setiap akhir cerita atau kisah -nya kebaikan dan selalu menang atas kejahatan . itu, mengandung doktrin, yang bekerja dengan baik untuk menjadi unggul , sedangkan perbuatan buruk akan selalu menerima kekalahan .
Nenek moyang Indonesia , beberapa puluh tahun SM telah dikenal wayang , bentuk panggung sebagai sarana religius ritus ritual -menggunakan shadow - shadow ( boneka ) dalam menyampaikan program-program mereka . Menjadi Hindu bangsa menemukan wayang sebagai forum untuk membawa kisah Mahabharata atau Ramayana dalam agama.
Lalu ada yang sangat harmonis perpaduan antara dua budaya yang berasal dari Hindu dan seorang asli Indonesia , sehingga sampai saat ini wayang dengan cerita dari Hindu ( Mahabharata dan Ramayana ) mampu beradaptasi dengan perkembangan dari sejarah Indonesia . Secara bertahap seni pedalangan di Indonesia berkembang sesuai dengan selera dan kebutuhan penggemar , menciptakan berbagai bentuk dan berbagai cerita dari Menak wayang , wayang Suluh ke Rev bersama tradisional lainnya kesenian yang terkait ke dalam seni pedalangan .
Puppetry seni ( termasuk seni pedalangan ) adalah salah satu tradisional bentuk klasik seni dan budaya Indonesia yang adhiluhung (bernilai tinggi ), mengandung nilai kehidupan dan yang hidup luhur , yang pada setiap akhir cerita atau kisah -nya kebaikan dan selalu menang atas kejahatan . itu, mengandung doktrin, yang bekerja dengan baik untuk menjadi unggul , sedangkan perbuatan buruk akan selalu menerima kekalahan .
Berikut ini ada 7 buah kitab-kitab peninggalan zaman kerajaan di Indonesia.
Dua diantaranya adalah kitab yang dihasilkan dari zaman Kerajaan Kediri, sedangkan dua lagi adalah kitab-kitab yang dihasilkan oleh empu pada zaman Kerajaan Majapahit.

Empu Tantular hidup pada zaman Kerajaan Majapahit.
2. Kitab Mahabharata, dikarang oleh Resi Wiyasa.

3. Kitab Ramayana, dikarang oleh Empu Walmiki.

4. Kitab Arjuna Wiwaha, dikarang oleh Empu Kanwa.

Empu Kanwa ini hidup pada zaman pemerintahan Raja Airlangga, Kahuripan.
5. Kitab Smaradahana, dikarang oleh Empu Darmaja.

Empu Darmaja hidup pada zaman Raja Kameswara I Kediri.
6. Kitab Bharatayuda, dikarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh.

Kedua Empu hidup pada zaman kerajaan Kediri, dengan Raja Jayabaya.
7. Kitab Negarakertagama, dikarang oleh Empu Prapanca.

Empu Prapanca hidup pada zaman Kerajaan Majapahit.
Tujuh kitab tersebut adalah kitab-kitab kuno yang sangat terkenal di Indonesia, hasil karya Pujangga-Pujangga asli tanah air pada zamannya.
Sebut saja Kitab Sutasoma buah karya Empu Tantular, siapa yang tidak pernah mendengar kitab ini terutama anak-anak sekolah pastilagh pernah mendengarnya dan bahkan hafal sampai siapa pengarangnya.
Dua diantaranya adalah kitab yang dihasilkan dari zaman Kerajaan Kediri, sedangkan dua lagi adalah kitab-kitab yang dihasilkan oleh empu pada zaman Kerajaan Majapahit.
7 Kitab Peninggalan Sejarah dan Pengarangnya
1. Kitab Sutasoma, dikarang oleh Empu Tantular.
Empu Tantular hidup pada zaman Kerajaan Majapahit.
2. Kitab Mahabharata, dikarang oleh Resi Wiyasa.
3. Kitab Ramayana, dikarang oleh Empu Walmiki.
4. Kitab Arjuna Wiwaha, dikarang oleh Empu Kanwa.

Empu Kanwa ini hidup pada zaman pemerintahan Raja Airlangga, Kahuripan.
5. Kitab Smaradahana, dikarang oleh Empu Darmaja.

Empu Darmaja hidup pada zaman Raja Kameswara I Kediri.
6. Kitab Bharatayuda, dikarang oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh.

Kedua Empu hidup pada zaman kerajaan Kediri, dengan Raja Jayabaya.
7. Kitab Negarakertagama, dikarang oleh Empu Prapanca.

Empu Prapanca hidup pada zaman Kerajaan Majapahit.
Tujuh kitab tersebut adalah kitab-kitab kuno yang sangat terkenal di Indonesia, hasil karya Pujangga-Pujangga asli tanah air pada zamannya.
Sebut saja Kitab Sutasoma buah karya Empu Tantular, siapa yang tidak pernah mendengar kitab ini terutama anak-anak sekolah pastilagh pernah mendengarnya dan bahkan hafal sampai siapa pengarangnya.
Tak cuma suku pedalaman luar negeri yang mempunyai ciri khas tersendiri dalam menyimbolkan kecantikan seorang wanita Di Indonesia, Anda juga bisa menmperolehnya pada Suku Dayak, Kalimantan.Di suku ini, symbol wanita yang dipandang cantik adalah mereka yang mempunyai telinga panjang.
Hampir serupa dengan yang dilaksanakan oleh para leluhur Suku Kayan di Thailand terhadap keturunan penerus mereka. Adat istiadat yang dijaga secara turun temurun ini sudah dimulai sejak wanita Suku Dayak masih bayi dan cuma dilakukan oleh mereka yang berasal dari keluarga para bangsawan.
Layaknya menggunakan anting-anting di telinga, wanita Suku Dayak juga melaksanakan hal serupa. Bedanya, anting yang mereka pakai terbuat dari kuningan yang selalu ditambah jumlahnya, semakin berat antingnya, maka telinga akan semakin panjang.
Sayangnya, sekarang ini sudah sangat jarang keturunan penerus yang mengabadikan telinga panjang ini. Argumentasinya pun beragam, tetapi kebanyakan mengaku mereka sering diejek ketika berada di sekolah. Suku Dayak yang mempunyai adat istiadat di antaranya ialah Dayak Iban, Dayak Punan Dayak Kayaan, Dayak Taman.
Jika di Probolinggo marmut menjadi bintang utamanya dalam Karapan Marmut, nah lain halnya di Sumatera Barat tepatnya di daerah Nagari Tanjung, Kecamata Luak, Kabupaten Limapuluhkota, Sumatera Barat. Pasalnya, disana ada tradisi masyarakat dimana seekor itik digunakan dalam sebuah lomba adu cepat yang namanya Pacu Itiak atau balapan itik. Di tradisi inilah itik menjadi bintang yang dielu-elukan untuk menjadi juara terdepan.
Anda pasti tahu dengan itik bukan? namun apakah semua itik bisa dilombakan dalam Pacu Itiak ini? dan ternyata jawabannya adalah tidak karena Itik yang digunakan dalam balapan ini bukanlah sembarang itik melainkan itik dengan kriteria khusus. Kriterianya pun macam-macam, mulai dari warna paruh dan kaki harus sama, mata dengan alis memiliki jarak yang tipis, leher pendek, sayapnya tidak boleh berpilin tetapi harus lurus dan mengarah ke atas, jumlah giginya ganjil, ujung jarinya ada sisik kecil, sampai dengan badan yang pajang (seperti jantung). Umur itik pun tak boleh tua yaitu harus berusia 4 sampai 6 bulan.
Jika Karapan Marmut, marmut dipaksa untuk berlari di tanah balap yan telah disediakan, di pacu itik, itik dipaksa terbang setelah dilepaskan untuk menuju garis finish. Itik memang dikenal sebagai hewan yang jarang terbang namun dalam perlombaan ini seperti membuktikan bahwa itik ternyata dapat terbang jauh. Jadi siapa yang mencapai garis finish duluan maka dialah yang menjadi juara. Itiak itu dipegang sedemikian rupa oleh para pemilik itiak untuk kemudian dilemparkan tinggi melambung ke udara. Setelah itiak dilepaskan, maka itiak-itiak tersebut akan terbang menuju garis finish.
Seperti halnya orang pacu lari, pacu itiak pun memiliki jarak terbang yang sudah dibuat dalam beberapa pilihan, yakni mulai dari 800 m hingga 2000 m. Penilaian dilakukan yakni dengan melihat itiak yang mampu terbang di atas jalur yang telah ditentukan dan mampu mencapai garis finish paling cepat.
Sebagai catatan, Pacu itiak adalah olahraga tradisional asli Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat yang sudah dijadikan tradisi sejak tahun 1028. Pacu Itiak diklaim sebagai satu - satunya di dunia. Olahraga ini bermula dari masyarakat di kanagarian Aur Kuning, Sicincin, dan Padang Panjang yang memelihara itiak sambil bertani. Itiak tidak hidup di kandang saja melainkan di gembala di sawah-sawah mereka. (berbagai sumber)
Lombok memang kaya akan kekayaan alamnya yang esksotis. Anda pastilah tahu Gili Trawangan bukan? ya sebuah destinasi wisata utama yang menawarkan sejuta sensasi di Lombok, mulai dari pesona keindahan alam bawah laut sampai dengan ombaknya yang menggoda hati untuk segera berselancar ketika di sana.
Nah, biasanya sebelum perayaan inti dari festival biasanya digelar beberapa kesenian dan acara tradisional seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik(pemberian cendera mata kepada kekasih) serta Belancara (pesiar dengan perahu. Tak ketinggalan digelar pula pementasan drama yang diangkat dari kisah Putri Mandalika.
Akan tetapi Lombok tak hanya dikenal dengan eksotisme keindahan alamnya saja, lantaran Lombok juga dikenal dengan pulau yang banyak menyelenggarakan berbagai macam festival yang didasarkan pada tradisi masyarakatnya. Sebut saja Festival Bau Nyale yang diselenggarakan setiap tanggal 20 bulan 10 dalam penanggalan Sasak atau lima hari setelah bulan purnama yang biasanya jatuh pada sekitar bulan Februari atau Maret.
![]() |
| sumber foto: www.lomboklovers.aforumfree.com |
Festival ini diadakan tepat di 16 titik Pantai Selatan Lombok Tengah yang memanjang sejauh puluhan kilometer dari arah Timur hingga barat seperti di Pantai Kaliantan, Pantai Kuta atau Pantai Selong Belanak.
Festival Bau Nyale pada dasarnya adalah ritual menangkap cacing laut yang biasanya keluar di daerah pantai Kuta. Cacing-cacing yang berwarna hijau, coklat, oranye hingga merah itu akan keluar pada tengah malam hingga pagi hari ketika pesisir laut mulai surut. Nyale sendiri berasal dari nama sejenis cacing laut yang biasa hidup di dasar laut atau lubang-lubang batu karang.
Festival Bau Nyale pada dasarnya adalah ritual menangkap cacing laut yang biasanya keluar di daerah pantai Kuta. Cacing-cacing yang berwarna hijau, coklat, oranye hingga merah itu akan keluar pada tengah malam hingga pagi hari ketika pesisir laut mulai surut. Nyale sendiri berasal dari nama sejenis cacing laut yang biasa hidup di dasar laut atau lubang-lubang batu karang.
![]() |
| www.lomboklovers.aforumfree.com |
Kisah Putri Mandalika
Tradisi Nyale erat kaitannya dengan Putri Mandalika, tetapi siapakah Putri Mandalika itu sebenarnya? Putri ini menurut cerita masyarakat setempat Nyale adalah jelmaan dari rambut Putri Mandalika. Putri Mandalika adalah seorang putri cantik yang arif sekaligus bijaksana dari seorang raja yang pernah memerintah di Pulau Lombok.
Cantiknya putri itu memukau banyak pangeran dan banyak dair mereka ingin meminangnya. Saking baiknya, tak ada satu pun pangeran yang ditolaknya ketika datang untuk melamarnya. Namun hal ini jusru menimbulkan kekisruhan yang berujung pada peperangan di antara pangeran-pangeran itu karena antara satu dengan yang lainnya ingin memiliki dirinya. Kontan, Putri Mandalika pun berpikir bagaimana caranya mengatasi ini semua.
Hingga datanglah acara yang dihadiri oleh para pangeran-pangeran itu. Dalam suatu kesempatan Putri berorasi di hadapan kerumunan “Wahai, Ayahanda dan Ibunda serta semua pangeran dan rakyat negeri Tonjang Beru yang aku cintai! Setelah aku pikirkan dengan matang, aku memutuskan bahwa diriku untuk kalian semua. Aku tidak dapat memilih satu di antara banyak pangeran. Diriku telah ditakdirkan menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya Nyale di permukaan.”
Putri Mandalika pun memutuskan untuk menceburkan diri ke Pantai Selatan mengorbankan jiwa raganya agar peperangan itu tidak terjadi. Nah, setelah kejadian tersebut, setiap tahunnya munculah Nyale yang dipercaya sebagai jelmaan dari rambut Putri Mandalika.
Nyale kaya Protein
Setelah puncak festival Nyale digelar, warga yang berhasil mengangkap nyale kemudian mengkonsumsinya alias memasak nyale-nyale itu untuk dimakan bersama-sama. Menurut penelitian, Nyale yang ditangkap itu ternyata baik dikonsumsi oleh manusia karena kaya akan protein dan terbukti mengeluarkan zat-zat yang dapat membunuh kuman-kuman. (berbagai sumber)

Bali di kenal dengan sebutan "Seribu Pura", memang betul karena Tuhannya orang Bali bisa dekat dan bisa pula jauh. Dikatakan bisa jauh, karena pada awalnya pemujaan berpusat pada Gunung Himalaya tempat berstananya SIWA personifikasi Tuhan Yang Maha Esa. Karena terlampau jauh, Gunung Himalaya didekatkan lagi ke Gunung Semeru, karena masih terasa jauh, umat Hindu di Bali mendekatkannya lagi kepada Gunung Agung yang tercermin dengan adanya Pura Besakih (Mother of temple) dimana di pura tersebut terdapat Pura Pedarman yang terdiri dari berbagai sekte/klan yang ada di Bali. Masih terasa jauh, didekatkan lagi dengan Pura Kawitan, Pura Kayangan Tiga di desa pekraman masing masing, sampai Sanggah Kemulan Taksu (Konsep Rong Tiga) di rumah masing-masing. Masih terasa jauh, maka disetiap kamar terdapat 'Pelangkiran' tempat memuja Tuhan, masih terasa jauh, orang Bali menemukan Tuhan di hatinya masing-masing.
Inilah keunikan dan kelebihan Hindu Bali yang fleksible dalam menyikapi perubahan. Filsafat orang Bali yang paling sering : "De ngaden awak bisa, depang anake ngadanin" merupakan cerminan sikap rendah hati yang tidak suka mengagung-agungkan kehebatan diri. Bairlah orang lain yang menilai.

Tidak heran sampai saat ini, Bali dijadikan tumpuan harapan bagi kaum urban untuk mencari sesuap nasi. Berbagai suku bangsa, agama dan kepercayaan saat ini di Bali, namun Bali tetap aman walau sudah pernah jadi korna Bom para kaum fanatis radikal. Orang Bali tetap tersenyum dan introspeksi diri, mungkin ada kesalahan yangdibuat dimasa lampau yang harus ditebus sekarang ini.
Kembali ke Pura dimana disetiap pura terdapat bangunan yang disebut Padma Sana, merupakan simbol dari Lingga dan Yoni yang mencerminkan penciptaan. Lingga dan Yoni dapat disimbolkan sebagai laki-laki (Lingga) dan perempuan (Yoni). Didirikan dibagian Timur Laut di setiap bangunan bali sebagai pemujaan tehadap Sang Hyang Surya. Pemujaan di Bali dilakukan setiap hari setiap saat. Pemujaan disini lebih luas artinya dari pada sembahyang, dimana pemujaan juga berarti mengingat nama Tuhan. Oleh karenanya banyak cara yang dilakukan umat Hindu Bali untuk mengingat Tuhan. Dapat dilakukan dengan Bhakti, Karma (perbuatan), Jnana (pengetahuan) dan banyaka cara lainnya.
Kembali ke Pura dimana disetiap pura terdapat bangunan yang disebut Padma Sana, merupakan simbol dari Lingga dan Yoni yang mencerminkan penciptaan. Lingga dan Yoni dapat disimbolkan sebagai laki-laki (Lingga) dan perempuan (Yoni). Didirikan dibagian Timur Laut di setiap bangunan bali sebagai pemujaan tehadap Sang Hyang Surya. Pemujaan di Bali dilakukan setiap hari setiap saat. Pemujaan disini lebih luas artinya dari pada sembahyang, dimana pemujaan juga berarti mengingat nama Tuhan. Oleh karenanya banyak cara yang dilakukan umat Hindu Bali untuk mengingat Tuhan. Dapat dilakukan dengan Bhakti, Karma (perbuatan), Jnana (pengetahuan) dan banyaka cara lainnya.
Dengan mengetahui cara orang berfikir, latar belakang dan masalah yang dihadapi, diharapkan seseorang menjadi lebih bijak dalam mengambil keputusan. Semoga tidak ada lagi kerusuhan yang diakibatkan masalah agama, suku dan aliran kepercayaan, karena kita hidup di bumu yang sama, dibawah matahari, bulan dan bintang yang sama. Kita semua bersaudara, aku adalah kamu kamu adalah aku.
Langganan:
Postingan (Atom)
UBUNO'S TWITTER
Comments
Labels
- Air Terjun
- Bali
- Beasiswa
- Culture
- Download
- Event
- Feature
- Flora Fauna
- Gaya Hidup
- Indonesia Barat
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Kabar Kampus
- Kalimantan
- Kaltim
- Kep. Bangka Belitung
- Kuliner
- Lampung
- Nusa Tenggara
- Pantai
- Profil Niaga
- Pulau Kecil
- Riau
- rumah adat
- seni budaya
- Sumatera Barat
- Sumatera Selatan
- Sumatera Utara
- Tarakan
- Tempat Wisata
- Tips
- Transportasi Tradisional
- Wisata
- Wisata Gunung
- wisata pulau
- Yogyakarta






