Flora Fauna
Labels
- Air Terjun
- Bali
- Beasiswa
- Culture
- Download
- Event
- Feature
- Flora Fauna
- Gaya Hidup
- Indonesia Barat
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Kabar Kampus
- Kalimantan
- Kaltim
- Kep. Bangka Belitung
- Kuliner
- Lampung
- Nusa Tenggara
- Pantai
- Profil Niaga
- Pulau Kecil
- Riau
- rumah adat
- seni budaya
- Sumatera Barat
- Sumatera Selatan
- Sumatera Utara
- Tarakan
- Tempat Wisata
- Tips
- Transportasi Tradisional
- Wisata
- Wisata Gunung
- wisata pulau
- Yogyakarta
Diklaim punah, pakar meyakini harimau jawa akan ditemukan kembali. Inilah catatan penelusurannya.
“Kami masih meyakini Harimau Jawa belum punah, dan 2014 ini adalah tahun resolusi semoga bisa terbukti bahwa harimau Jawa masih ada.”
Semangat inilah yang memantik sejumlah peneliti, akademisi, bersama dinas terkait yang masih meyakini keberadaan harimau Jawa di tanah asalnya, dalam sebuah kegiatan bernama “Sarasehan Harimau Jawa 2013” yang diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Meru Betiri (BTNMB).
Pembahasan terfokus pada karnivora besar endemik hutan Jawa yang sudah diklaim punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) yaitu harimau jawa (Panthera tigris sondaica) dan akhir kegiatan ini menghasilkan rekomendasi bahwa harimau Jawa masih diyakini masih ada alias belum punah.
Menurut Wahyu Giri Prasetya, peneliti harimau jawa, harimau loreng (jawa) tergolong karnivora besar dengan sebaran geografis sangat luas. Membentang dari lembah Tigris di Siberia hingga di Rusia Timur, lalu di India kecuali Sri Lanka, kemudian di Indocina dan semenanjung Malaya—hingga di kepulauan Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Bali.
Satwa ini dianggap berasal dari lembah Tigris kemudian menyebar hingga ke Bali melewati rentang waktu ribuan tahun. Adanya perubahan tinggi permukaan air laut dan fragmentasi antarpopulasi, menjadikan spesies harimau loreng dikenal dengan 8 subspesies. Saat ini tiga subspesies, yaitu harimau kaspia, harimau bali dan harimau jawa sudah dianggap punah.
Wahyu Giri Prasetya dalam presentasinya memaparkan bahwa harimau jawa belum bisa dikatakan punah. Dalam materinya fakta temuan selain dari foto masih ditemukan. Laporan pembunuhan dan sisa pembunuhan masih terus didapat.
Selain itu, metode pemantauan konvensional ada banyak kelemahan. Contohnya, pemasangan kamera di TN Meru Betiri masih dalam jumlah yang terbatas sekali, dan tidak dilakukan penelitian dalam 2 kali siklus umur secara terus menerus, dan juga lokasi penelitian yang ada masih terbatas di Meru Betiri.
Pada tahun 1974, penelitian Seidensticker dan Sujono di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jawa Timur memperkirakan Harimau Jawa tinggal 3-4 ekor. Berikutnya riset WWF di tempat yang sama tahun 1994, ternyata melaporkan hasil nihil. Kamera jebak sistem injak yang dipasang tidak memotret satu pun sosok harimau jawa. Selama ini TNMB terlanjur ditetapkan menjadi habitat terakhir harimau jawa. Sehingga, kesimpulan punah muncul. Pada Desember 1996, CITES memutuskan vonis punah.
Jika mengacu pada Steidensticker & Soejono, yang menyatakan punah pada tahun 1976 di Suaka Margasatwa Meru Betiri. Dengan usia harimau berkisar 25 tahun dikalikan dua umur rata-rata, maka harimau jawa baru bisa dikatakan punah pada tahun 2026. “Jadi terlalu dini dan tak kuat dasar pernyataan punah bagi harimau Jawa,” kata Wahyu Giri.
Ia menambahkan bahwa info juga yang sering salah kaprah, bahwa WWF seolah memasang 20 kamera, tetapi sebenarnya hanya memasang sepuluh kamera yang dipasang dalam dua periode.
Untuk melawan pernyataan punah dari IUCN memang tidaklah mudah. Saat ini memang bukan era jejak, tapi era foto.
Didik Raharyono yang juga peneliti harimau Jawa dan penulis buku Berkawasan Harimau bersama Alam kepada Mongabay-Indonesia memaparkan perkara kepunahan harimau jawa ternyata bukan soal sepele. Selama ini antara “masyarakat ilmiah” dan masyarakat sekitar hutan terjadi perdebatan.
“Kami masih meyakini Harimau Jawa belum punah, dan 2014 ini adalah tahun resolusi semoga bisa terbukti bahwa harimau Jawa masih ada.”
Semangat inilah yang memantik sejumlah peneliti, akademisi, bersama dinas terkait yang masih meyakini keberadaan harimau Jawa di tanah asalnya, dalam sebuah kegiatan bernama “Sarasehan Harimau Jawa 2013” yang diselenggarakan oleh Balai Taman Nasional Meru Betiri (BTNMB).
Pembahasan terfokus pada karnivora besar endemik hutan Jawa yang sudah diklaim punah oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) yaitu harimau jawa (Panthera tigris sondaica) dan akhir kegiatan ini menghasilkan rekomendasi bahwa harimau Jawa masih diyakini masih ada alias belum punah.
Menurut Wahyu Giri Prasetya, peneliti harimau jawa, harimau loreng (jawa) tergolong karnivora besar dengan sebaran geografis sangat luas. Membentang dari lembah Tigris di Siberia hingga di Rusia Timur, lalu di India kecuali Sri Lanka, kemudian di Indocina dan semenanjung Malaya—hingga di kepulauan Indonesia meliputi Sumatera, Jawa, Bali.
Satwa ini dianggap berasal dari lembah Tigris kemudian menyebar hingga ke Bali melewati rentang waktu ribuan tahun. Adanya perubahan tinggi permukaan air laut dan fragmentasi antarpopulasi, menjadikan spesies harimau loreng dikenal dengan 8 subspesies. Saat ini tiga subspesies, yaitu harimau kaspia, harimau bali dan harimau jawa sudah dianggap punah.
Wahyu Giri Prasetya dalam presentasinya memaparkan bahwa harimau jawa belum bisa dikatakan punah. Dalam materinya fakta temuan selain dari foto masih ditemukan. Laporan pembunuhan dan sisa pembunuhan masih terus didapat.
Selain itu, metode pemantauan konvensional ada banyak kelemahan. Contohnya, pemasangan kamera di TN Meru Betiri masih dalam jumlah yang terbatas sekali, dan tidak dilakukan penelitian dalam 2 kali siklus umur secara terus menerus, dan juga lokasi penelitian yang ada masih terbatas di Meru Betiri.
Pada tahun 1974, penelitian Seidensticker dan Sujono di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Jawa Timur memperkirakan Harimau Jawa tinggal 3-4 ekor. Berikutnya riset WWF di tempat yang sama tahun 1994, ternyata melaporkan hasil nihil. Kamera jebak sistem injak yang dipasang tidak memotret satu pun sosok harimau jawa. Selama ini TNMB terlanjur ditetapkan menjadi habitat terakhir harimau jawa. Sehingga, kesimpulan punah muncul. Pada Desember 1996, CITES memutuskan vonis punah.
Jika mengacu pada Steidensticker & Soejono, yang menyatakan punah pada tahun 1976 di Suaka Margasatwa Meru Betiri. Dengan usia harimau berkisar 25 tahun dikalikan dua umur rata-rata, maka harimau jawa baru bisa dikatakan punah pada tahun 2026. “Jadi terlalu dini dan tak kuat dasar pernyataan punah bagi harimau Jawa,” kata Wahyu Giri.
Ia menambahkan bahwa info juga yang sering salah kaprah, bahwa WWF seolah memasang 20 kamera, tetapi sebenarnya hanya memasang sepuluh kamera yang dipasang dalam dua periode.
Untuk melawan pernyataan punah dari IUCN memang tidaklah mudah. Saat ini memang bukan era jejak, tapi era foto.
Didik Raharyono yang juga peneliti harimau Jawa dan penulis buku Berkawasan Harimau bersama Alam kepada Mongabay-Indonesia memaparkan perkara kepunahan harimau jawa ternyata bukan soal sepele. Selama ini antara “masyarakat ilmiah” dan masyarakat sekitar hutan terjadi perdebatan.
Para ahli menyatakan harimau Jawa telah punah, menyusul saudara dekatnya, harimau bali (Panthera tigris balica). Dasarnya adalah berbagai penelitian yang dilakukan tidak pernah lagi menemukan sosok wujudnya.
Dalam artikel yang ditulis Didik Raharyono berjudul “Sejarah Penyelamatan Harimau Jawa Dan Masa Depannya di Meru Betiri” dijelaskan bahwa harimau loreng hampir mendiami seluruh Pulau Jawa yang berselimutkan hutan tropis lembap. Hanya saja setelah kebijakan tanam paksa dari kolonial Belanda, merombak hutan tropis dataran rendah —habitat ideal bagi harimau loreng— menjadi perkebunan tebu dan jati, terjadi konflik dengan satwa liar.
Di tahun 1971 Hoogerwerf meneliti SM Meru Betiri menggunakan metode pengamatan lapangan dan menyatakan masih eksisnya harimau Jawa di kawasan ini. Lalu Steidensticker mempertajam penelitian guna penguatan status konservasinya di tahun 1976 menggunakan metode amatan lapang. Berikut penelitian oleh Silva IPB tahun 1987 yang juga masih mencatat temuan cakaran, feses, serta jejak harimau loreng dengan metode amatan lapang.
(Tommy Apriando/Mongabay Indonesia)
The Komodo dragon (Varanus komodoensis) is a large species of lizard found in the Indonesian islands of Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang and Gili Dasami. A member of the monitor lizard family (Varanidae), it is the largest living species of lizard, growing to a maximum of length 3 metres (9.8 ft) in rare cases and weighing up to around 70 kilograms (150 lb). Their unusual size has been attributed to island gigantism, since there are no other carnivorous animals to fill the niche on the islands where they live.
However, recent research suggests that the large size of komodo dragons may be better understood as representative of a relict population of very large varanid lizards that once lived across Indonesia and Australia, most of which, along with other megafauna, died out after the Pleistocene. Fossils very similar to V. komodoensis have been found in Australia dating to greater than 3.8 million years ago, and its body size remained stable on Flores, one of the handful of Indonesian islands where it is currently found, over the last 900,000 years, "a time marked by major faunal turnovers, extinction of the island's megafauna, and the arrival of early hominids by 880 ka." and scientists believe they share an ancestry with the cretacious period man eating predator.Mating begins between May and August, and the eggs are laid in September. About twenty eggs are deposited in abandoned megapode nests or in a self-dug nesting hole. The eggs are incubated for seven to eight months, hatching in April, when insects are most plentiful. Young Komodo dragons are vulnerable and therefore dwell in trees, safe from predators and cannibalistic adults. They take about eight to nine years to mature, and are estimated to live for up to 30 years.
Komodo dragons were first recorded by Western scientists in 1910. Their large size and fearsome reputation make them popular zoo exhibits. In the wild their range has contracted due to human activities and they are listed as vulnerable by the IUCN. They are protected under Indonesian law, and a national park, Komodo National Park, was founded to aid protection efforts.
Burung Cendrawasih adalah burung asal Papua. Burung cenderawasih, terutama yang jantan, memiliki bulu-bulu indah layaknya bidadari turun dari surga. Oleh karena itulah burung cenderawasih disebut sebagai burung surga atau bird of paradise.
Selain dapat ditemui di Papua, burung cenderawasih juga dapat ditemui di negara tetangga kita yaitu Papua Nugini dan Australia. Nah, berikut ini adalah beberapa spesies burung cenderawasih yang terkenal karena kecantikannya :
1. Burung Cendrawasih Kuning Kecil (Lesser bird of paradise)
Burung cendrawasih jenis ini merupakan burung serukuran sedang dengan panjang sekitar 32 cm. Bulu-bulunya berwarna kombinasi merah-cokelat dengan mahkota berwarna kuning dan punggung atas berwarna kuning kecokelatan.
Burung jannya memiliki tenggorokan berwarna hijau tua, dan sepasang ekor panjang yang dihiasi bulu-bulu tebal berwarna kuning dan putih. Sedangkan burung betina memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan dengan burung jantan, kepalanya berwarna cokelat tua, badannya berwarna putih dan tidak memiliki bulu-bulu hias.
Daerah penyebaran burung cenderawasih jenis ini adalah meliputi seluruh hutan di bagian utara Papua Nugini dan pulau-pulau disekitarnya seperti Pulau Misool dan Yapen.
2. Astrapia Ribbon Tailed
Burung Cendrawasih jenis ini memiliki bulu ekor yang sangat panjang yang melebihi panjang tubuhnya. Bahkan panjang ekornya bisa sampai 3 kali panjang tubuhnya. Panjang burung jantan sekitar 32 cm, dengan ekor berbentuk pita warna putih yang panjangnya mencapai 1 m. Sedangkan betinanya, memiliki ekor yang agak pendek dengan warna cokelat. Burung cenderawasih jenis ini dapat ditemui di hutan hujan tropis di bagian tengah Pulau Papua.
3. Cendrawasih Biru (Blue Bird of Paradise)
Burung ini memiliki panjang sekitar 30 cm, berbadan hitam, mata cokelat gelap dan kaki berwarna abu-abu. Burung jantan dihiasi bulu-bulu sayap yang didominasi warna ungu-biru. Burung ini merupakan burung khas Papua Nugini. Daerah penyebarannya adalah di Hutan-hutan di Papua Nugini bagian Timur dan Tenggara. Umumnya mereka tinggal di ketinggian 1400- 1800 m di atas permukaan laut.
Cenderawasih biru memiliki ritual tarian unik saat musim kawin. Untuk menarik pasangannya burung-burung jantan akan menari memaerkan bulu-bulunya yang indah sambil mengeluarkan suara-suara yang menyerupai nyanyian.
4. Paradise Rifflebird
Ciri khas burung ini adalah, burung jantannya memiliki bulu berwarna hitam dengan mahkota berwarna biru kehijauan, kaki hitam, mata cokelat, dan paruh berwarna kuning. Burung cenderawasih jenis ini dapat ditemukan di hutan New South Wales dan Queendslans di Australia.
Keindahan burung ini terlihat pada saat burung jantan mengembangkan sayapnya menyerupai kipas dan bergerak kekana dan kekiri seperti menari untuk menarik si betina.
5. Cendrawasih Merah (Red Bird of Paradise)
Panjang burung ini sekitar 33 cm. Burung ini memiliki bulu berwarna kuning dan cokelat serta memiliki paruh berwarna kuning. Burung jantan dewasa memiliki bulu-bulu berwarna merah darah dengan ujung berwarna putih. Di bagian ekornya terdapat dua buah bulu melingkar berwarna hitam. Sedangkan burung betinanya berukuran lebih kecil dari si jantan, serta tidak memiliki bulu-bulu hiasan.
Burung cenderawasih merah hanya dapat ditemukan di hutan-hutan dataran rendah di Pulau Waigeo dan Batanta, kabupaten Raja Ampat, Papua.
6. Cenderawasih Panji (King Saxony bird of paradise)
Burung ini merupakan jenis burung kicau berukuran kecil dengan panjang sekitar 22 cm. Burung jantan dewasa memiliki bulu hitam dan kuning tua, di kepalanya terdapat dua helai bulu kawat bersisik berwarna biru-muda mengkilat dengan panjang mencapai 40 cm. Bulu panjang ini dapat berdiri tegak ketika melihat burung betina. Sedangkan burung betinanya memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil serta tidak memiliki antena.
Daerah penyebaran burung cenderawasih panji ini meliputi hutan-hutan pegunungan di Papua.
Bunga abadi sebenarnya selama ini identik dengan satu nama yang mungkin asing bagi sebagian orang, yakni Anaphalis Javanica, tetapi bagaimana jika disebut Edelweis? Tentu hampir semua orang, khususnya para penggiat alam bebas pendakian gunung mengenal si bunga abadi Edelweis Anaphalis Javanica atau Edelweis Jawa. Saat pertama kali melihat bunga ini, terasa unik dengan bunga yang kecil – kecil, cantik dan tak pernah layu.
Edelweiss (Leontopodium alpinum), salah satu bunga yang sangat terkenal sebagai “BUNGA GUNUNG EROPA”, sebagai salah satu keluarga BUNGA MATAHARI (Asteraceae).
Nama bunga ini berasal dari GERMAN edel (berarti Mulia-noble) dan weis (berarti Putih – white). Nama Genusnya Leontopodium berarti “LION’S paw” atau CAKAR MACAN, sedangkan LEON dari bahasa YUNANI – leon (lion) and podion ( KAKI, pous, foot).
- Bunga ini bisa tumbuh mencapai ukuran 3-20cm (dalam perawatan dan pengembangan bisa mencapai 40cm). Daun yang muncul nampak seperti WOOL karena tertutup oleh BULU-BULU yang PUTIH.
- Bunga ini mekar antara bulan JULI dan SEPTEMBER . Dan uniknya penyebaran bunga ini lebih menyukai daerah berbatu dan berkapur pada ketinggian 2000-2900m.
- Bunga ini tidak beracun, dan sudah digunakan sebagai obat tradisional untuk melawan penyakit yang berhubungan dengan perut (pembedahan perut) dan penyakit yang berhubungan dengan pernapasan.
- Bunga ini biasanya tumbuh di lokasi yang tidak terjangkau, yang mana ini banyak terjadi di negara Slovenia dengan pegunungannya . Karena warna PUTIH-nya maka Switzerland menjadikannya sebagai simbol ke-MURNI-an dan ke-CANTIK-an, sehingga bangsa ROMANIA menyebutnya sebagai, floarea reginei (Queen’s flower).
- Edelweis (kadang ditulis eidelweis) atau Edelweis Jawa (Javanese edelweiss) juga dikenal sebagai Bunga Abadi yang mempunyai nama latin Anaphalis javanica, adalah tumbuhan endemik zona alpina/montana di berbagai pegunungan tinggi Indonesia. Tumbuhan ini dapat mencapai ketinggian maksimal 8 m dengan batang mencapai sebesar kaki manusia walaupun umumnya tidak melebihi 1 m. Tumbuhan yang bunganya sering dianggap sebagai perlambang cinta, ketulusan, pengorbanan, dan keabadian ini sekarang dikategorikan sebagai tanaman langka.
- Edelwis merupakan perlambang cinta yang penuh ketulusan mengingat tekstur yang halus dan lembut dengan warnanya yang putih (walau ini sebenarnya tergantung kepada habitat di mana ia tumbuh yang menyebabkan warnanya agak kekuning-kuningan, keabu-abuan ataupun kebiru-biruan).
- Edelweis juga melambangkan pengorbanan. Bunga ini hanya tumbuh di puncak-puncak atau lereng-lereng gunung yang tinggi sehingga untuk mendapatkannya membutuhkan perjuangan yang amat berat. Ditambah lagi dengan adanya larangan membawa pulang bunga ini, pemetik harus main petak umpet dengan petugas Jagawana.
- Meskipun dipetik bunga ini tidak akan berubah bentuk dan warnanya, selama disimpan di tempat yang kering dengan suhu ruangan. Karenanya, Edelweis adalah bunga keabadian. Bunga yang membuat cinta akan tetap abadi!
Ukuran lingkaran dari tumbuhan air yang satu ini bukan main besarnya dan melebihi ukuran dari teratai yang biasa kita jumpai di danau-danau atau rawa. Ingin menjumpainya tidak perlu pergi jauh-jauh ke hutan Amazon karena cukup datang di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Flores, NTT anda bisa melihat teratai berukuran besar di danau teratai raksasa.
![]() |
| sumber foto: www.unik247.blogspot.com/ |
Bahkan, satwa langka buaya darat juga terdapat di Kabupaten Manggarai Timur, khususnya di Kecamatan Sambi Rampas. Teratai raksasa ini tepatnya ada di Danau Rana Tonjong yang terletak di Desa Nanga Mbeling, Kecamatan Sambi Rampas, sekitar 3 kilometer utara Pota. Luas danau ini 2.200 kilometer persegi dan berada di sebuah dataran rendah yang dikelilingi perbukitan.
Teratai raksasa ini memang menggila di danau itu lantaran seluruh permukaan danau ditumbuhi bunga teratai raksasa atau giant lotus (Victoria amazonica)atau tonjong dalam bahasa setempat. Bunga teratai memang berbunga, sama seperti bunga teratai raksasanya yang satu ini, akan tetapi tumbuhan ini hanya berbunga sekali setahun pada bulan April dan Mei.
Di dalam bunga yang sudah mekar terdapat biji-bijian yang dapat dimakan mentah dan memiliki rasa seperti kacang tanah. Entah kenapa, bunga teratai ini tidak dapat tumbuh dan berbunga di tempat lain selain danau itu. Selain di tumbuhi oleh teratai raksasa itu, Danau Rana Tonjong juga menjadi habitat bagi ikan air tawar, katak, dan tempat mencari makan bagi burung angsa putih.
Selain di Indonesia bunga teratai raksasa, seperti disinggung di atas juga bisa ditemui di perairan dangkal sungai basin Amazon. Victoria Amazornica adalah genus teratai air terbesar yang ada didunia dan daunnya sendiri dapat tumbuh lebih dari 3 m diameternya dan memiliki berat bisa menyampaiu 70 pound atau 31 kg . Teratai raksasa ini disebut juga sebagai victoria regia setelah ratu victoria di Inggris, ketika di temukan oleh petualang yang bernama Robert Schomburgk pada tahun 1836.
Teratai (Nymphaea sp.) adalah tanaman air yang banyak diminati para pecinta tanaman hias. Hal ini dikarenakan sosoknya yang anggun, indah, alami dan eksotis sekaligus dapat menyejukkan pandangan. Selain karena indah, tumbuhan teratai juga memiliki cara menyesuaikan diri terhadap tempat hidupnya dengan cara yang unik. Berkebalikan dengan kaktus yang hidup di daerah gersang, teratai justru hidup di daerah penuh air dan dapat mengapung di permukaan air. Teratai biasa ditemukan dipermukaan air yang tenang seperti kolam dan danau.
Daun teratai tipis dan lebar, berbentuk bundar atau oval. Bentuk daun ini sangat membantu mempercepat proses penguapan. Permukaan daun tidak mengandung lapisan lilin sehingga airnya jatuh kepermukaan daun tidak membentuk butiran air. (berbagai sumber)
Pada awalnya ini ikan ini dianggap punah , namun pada tahun 1939 ikan ditemukan di Komoro pulau selatan Afrika , adalah asumsi bahwa ikan ini telah punah dari bumi 65 juta tahun yang lalu .
Kuno Coelacanth spesies ikan ( Coelecanth latemeria ) atau Raja Laut ikan ikan purba yang hanya dikenal melalui fosil dan panjang sebelum menemukan pertama spesimen hidup , sekitar 400 juta tahun yang lalu . Ikan terdaftar sebagai terancam punah dan dimasukkan dalam CITES Appendix 1.
Raja laut ikan yang dikenal sebagai coelacanth sekarang hanya dua spesies , jenis, sekitar 120 spesies telah dinyatakan punah dan hanya ditemukan fosil saja. Coelacanth adalah ikan - paru beberapa ahli percaya nenek moyang tetrapoda , para nenek moyang darat hewan , termasuk manusia. Raja laut atau Coelacanth ikan habitat di laut dalam memiliki , 700 meter di bawah permukaan laut . Meskipun kadang-kadang ini ikan purba bisa jadi dalam laut 200 meter .
Pada tahun 1998 , sebuah laut ikan raja menangkap ikan jaring di perairan Manado Tua Pulau , Utara Sulawesi . Jenis ikan ini sudah umum dikenal oleh nelayan setempat namun tidak sampai seorang peneliti Amerika yang tinggal di Manado , Mark Erdmann dan beberapa teman-teman, termasuk LIPI ilmuwan mempublikasikan dan kemudian raja laut ikan ini disebut sebagai spesies baru , Latimeria menadoensis ( Sulawesi Coelacanth ). Antara laut ikan raja spesies chalumnae Latimeria ( Coelacanth Komoro ) dan menadoensis Latimeria ( Coelacanth Sulawesi ) memiliki serupa karakteristik . Ini ikan purba ekor berbentuk seperti kipas dengan mata besar dan skala yang terlihat tidak sempurna ( seperti batu ). 2 meter panjangnya dengan berat mencapai 80-100 kg . Perbedaannya ada dalam warna coklat menadoensis Latimeria chalumnae sementara biru baja.
Kuno Coelacanth spesies ikan ( Coelecanth latemeria ) atau Raja Laut ikan ikan purba yang hanya dikenal melalui fosil dan panjang sebelum menemukan pertama spesimen hidup , sekitar 400 juta tahun yang lalu . Ikan terdaftar sebagai terancam punah dan dimasukkan dalam CITES Appendix 1.
Raja laut ikan yang dikenal sebagai coelacanth sekarang hanya dua spesies , jenis, sekitar 120 spesies telah dinyatakan punah dan hanya ditemukan fosil saja. Coelacanth adalah ikan - paru beberapa ahli percaya nenek moyang tetrapoda , para nenek moyang darat hewan , termasuk manusia. Raja laut atau Coelacanth ikan habitat di laut dalam memiliki , 700 meter di bawah permukaan laut . Meskipun kadang-kadang ini ikan purba bisa jadi dalam laut 200 meter .
Pada tahun 1998 , sebuah laut ikan raja menangkap ikan jaring di perairan Manado Tua Pulau , Utara Sulawesi . Jenis ikan ini sudah umum dikenal oleh nelayan setempat namun tidak sampai seorang peneliti Amerika yang tinggal di Manado , Mark Erdmann dan beberapa teman-teman, termasuk LIPI ilmuwan mempublikasikan dan kemudian raja laut ikan ini disebut sebagai spesies baru , Latimeria menadoensis ( Sulawesi Coelacanth ). Antara laut ikan raja spesies chalumnae Latimeria ( Coelacanth Komoro ) dan menadoensis Latimeria ( Coelacanth Sulawesi ) memiliki serupa karakteristik . Ini ikan purba ekor berbentuk seperti kipas dengan mata besar dan skala yang terlihat tidak sempurna ( seperti batu ). 2 meter panjangnya dengan berat mencapai 80-100 kg . Perbedaannya ada dalam warna coklat menadoensis Latimeria chalumnae sementara biru baja.
Menurut basis data yang ada, terdapat 2 juta spesies tumbuhan di dunia dan 50% di Indonesia.
karena posisi yang tepat dari Indonesia di khatulistiwa, menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis yang sangat ideal untuk pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Tapi sayangnya, tanaman langka, yang harus dilindungi tidak diobati dengan benar, sehingga populasi menurun dari hari ke hari.
Ditemukan oleh Sir Stamfort kelompok (gubernur East Indi Perusahaan di Sumatera dan Jawa) dan Dr Joseph Arnord, seorang naturalis pada sebuah ekspedisi di Bengkulu pada 20 Mei 1818. Kedua nama tersebut diabadikan dalam hubungan ini dengan nama Latin Robert Brown.
Bunga tidak akar parasit, tidak ada daun, dan tidak bertangkai. Diameter bunga ketika sedang mekar bisa mencapai 1 meter dengan berat sekitar 11 kilogram. Bunga menghisap unsur anorganik dan organik dari tanaman inang Tetrastigma.
Satu-satunya bagian yang bisa disebut "tanaman" adalah jaringan yang tumbuh di tanaman merambat Tetrastigma. Bunga memiliki lima kelopak yang mengelilingi bagian yang terlihat seperti mulut laras. Pada dasar ada minat bagian seperti hidangan berduri, berisi benang sari bunga atau putik tergantung pada jenis kelamin, laki-laki atau perempuan.
Penyerbuk hewan lalat tertarik dengan bau yang dikeluarkan bunga. Bunga hanya sekitar seminggu tua (5-7 hari) dan kemudian layu dan mati. Persentase pembuahan sangat kecil, karena bunga jantan dan bunga betina mekar sangat jarang berkumpul dalam seminggu, jika ada lalat yang datang membuahi.
karena posisi yang tepat dari Indonesia di khatulistiwa, menyebabkan Indonesia memiliki iklim tropis yang sangat ideal untuk pertumbuhan berbagai jenis tanaman. Tapi sayangnya, tanaman langka, yang harus dilindungi tidak diobati dengan benar, sehingga populasi menurun dari hari ke hari.
Ditemukan oleh Sir Stamfort kelompok (gubernur East Indi Perusahaan di Sumatera dan Jawa) dan Dr Joseph Arnord, seorang naturalis pada sebuah ekspedisi di Bengkulu pada 20 Mei 1818. Kedua nama tersebut diabadikan dalam hubungan ini dengan nama Latin Robert Brown.
Bunga tidak akar parasit, tidak ada daun, dan tidak bertangkai. Diameter bunga ketika sedang mekar bisa mencapai 1 meter dengan berat sekitar 11 kilogram. Bunga menghisap unsur anorganik dan organik dari tanaman inang Tetrastigma.
Satu-satunya bagian yang bisa disebut "tanaman" adalah jaringan yang tumbuh di tanaman merambat Tetrastigma. Bunga memiliki lima kelopak yang mengelilingi bagian yang terlihat seperti mulut laras. Pada dasar ada minat bagian seperti hidangan berduri, berisi benang sari bunga atau putik tergantung pada jenis kelamin, laki-laki atau perempuan.
Penyerbuk hewan lalat tertarik dengan bau yang dikeluarkan bunga. Bunga hanya sekitar seminggu tua (5-7 hari) dan kemudian layu dan mati. Persentase pembuahan sangat kecil, karena bunga jantan dan bunga betina mekar sangat jarang berkumpul dalam seminggu, jika ada lalat yang datang membuahi.
Langganan:
Postingan (Atom)
UBUNO'S TWITTER
Comments
Labels
- Air Terjun
- Bali
- Beasiswa
- Culture
- Download
- Event
- Feature
- Flora Fauna
- Gaya Hidup
- Indonesia Barat
- Jawa Tengah
- Jawa Timur
- Kabar Kampus
- Kalimantan
- Kaltim
- Kep. Bangka Belitung
- Kuliner
- Lampung
- Nusa Tenggara
- Pantai
- Profil Niaga
- Pulau Kecil
- Riau
- rumah adat
- seni budaya
- Sumatera Barat
- Sumatera Selatan
- Sumatera Utara
- Tarakan
- Tempat Wisata
- Tips
- Transportasi Tradisional
- Wisata
- Wisata Gunung
- wisata pulau
- Yogyakarta










